little mind in little space

Archive for the ‘iman’ Category

Hayah, judul nya ngikut2 acara salah satu lawak (?) di tipi… yah dah ampir sebulan tapi ga lebih, gatel juga mo ngepost… tadinya sempet malezzzzz banget ngeposting eh pas blogwalking ke temen2 duuuh jadi kangen curhat di blog…

Saking banyak ide yg dipendem di otak, jadi bingung mo nulis dari mana ya? karena berangkat dari rumah, so aku cerita keadaan rumah dl deh. Alhamdulillah my mom, my sis ngedukung aku ikut kegiatan yg lebih positif dan insyaAllah untuk umat (cei lah…). Mudah2an diridhoi Allah. Amin 🙂

Kata-kata “Umat” ini sering ku dengar dari salah satu teman ku. Teman baru. Ga cuma satu tapi alhamdulillah banyak dan mudah2an bisa saling mengingatkan satu sama lain. Amin.

Sempat ku ragu ketika aku bertemu dengan teman-teman baru ku ini. Apakah aku bisa berjalan beriringan dengan mereka, secara aku ini agak2 eror. Agak2 menyimpang dari haluan 😀 n agak2 ga nyambung juga klo diajak ngomong… hehehe point terakhir ini siy dari dulu kaleeee…

Salah satu yang unik dari temen2 baru ku ini, mereka lebih adem. Beda banget ma aku :p tapi ku jalani juga. Di tengah jalan, aku ngerasa beda sendiri. Kaya masuk dunia asing. Beda banget dunia ku yg dulu dengan dunia yg kumasuki sekarang. Jadi ngerasa gimanaaaa gitu. Sempet nanya ma diri sendiri, sebenernya aku cocok ga siy berada di dunia ku yg sekarang? Sampe2 aku curhat abis2an ma si endang (temen rumah).

Temen2 ku yang sekarang ini bagi ku adalah orang2 yang TOBGT. Padahal aku ketemu orang2 yang TOBGT ga sekarang doank. Dari dulu, temen2 dan orang2 yang aku kenal adalah orang yg TOBGT. Entah kenapa di hadapan temen2 baru ku ini, jadi merasa kerdil. Merasa kerdil, merasa kerdil, ya merasa kerdil di hadapan Allah…

Iklan

Artikel ini sengaja di posting ulang buat pengingat diri ini yang sering lupa

“Robbij’alnii muqiimas sholati wa min dzurriyatii Rabbana Taqobbal Du’aa”.
Ya Allah Ya Rabb ku, jadikanlah aku dan keluargaku orang yang mendirikan sholat, Ya Robb kabulkan lah do’a ku.

“Yaa Muqollibal quluub tsabit quluubana ila diinika”.
“Robbana la tuzigh quluubana ba’da idz hadaitana wa hablana min ladunka rohmah , innaka Antal Wahaab”.
Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikan hati ini tetapkanlah kami dalam Agama-Mu
Ya Allah Ya Tuhan kami janganlah Kau palingkan hati ini setelah datangnya petunjuk ini kepada kami dan berikan lah kami dari kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya hanya Engkau lah Yang Maha Pemberi.

Sejenak kita mengambil pembelajaran serta hikmah dari kisah berikut, :

Sumber : Abang Eddy Adriansyah, hendrayana & pimpinan redaksi CyberMq

Ketika Pak Heru, atasan saya, memerintahkan untuk mencari klien yang bergerak di bidang interior, seketika pikiran saya sampai kepada Pak Azis. Meskipun hati masih meraba-raba, apa mungkin Pak Azis mampu membuat kios internet, dalam bentuk serupa dengan anjungan tunai mandiri dan dari kayu pula, dengan segera saya menuju ke bengkel workshop Pak Azis.

Setelah beberapa kali keliru masuk jalan, akhirnya saya menemukan bengkel Pak Azis, yang kini ternyata sudah didampingi sebuah masjid. Bengkelnya masih rumah kayu, masih seluas dulu, ketika pertama kali saya berkunjung ke sana. Pak Azispun tampak awet muda, sama seperti dulu. Masih dengan sigaret kreteknya, masih langsing dan tampak sehat, hanya pakaiannya yang sedikit berubah. Kali ini dia selalu memakai kopiah putih. Rautnya cerah, fresh, memancarkan kesan tenang dan lebih santai. Beungeut wudhu-an (wajah sering wudhu), kata orang sunda. Selalu bercahaya.
Karena lama tidak bertemu, sebelum sampai ke pokok permasalahan, kami berbincang-bincang cukup lama. Dalam rentang tujuh tahun, ternyata banyak sekali proyek yang sudah Pak Azis kerjakan, bahkan kerja arsitekpun, yang sedikit berbeda dari bidang keahlian yang digelutinya tujuh tahun lalu, pernah juga ia garap. Salah satu merek pakaian muslim kenamaan, memercayakan pembangunan dan interior ruangan butiknya di seluruh kota besar Indonesia, kepada Pak Azis. Ornamen kayu di kubah Masjid Raya propinsi-pun merupakan buah karyanya. Yang agak surprise, ternyata Pak Azis juga yang menangani furniture dan interior untuk acara pengajian Ramadhan sebuah televisi swasta, yang menghadirkan seorang ulama kenamaan. Muncul pertanyaan di benak saya : karena kerap bersinggungan dengan kegiatan islamkah Pak Azis bisa tampak begitu tenang dan awet muda ?

***

Hidayah Allah ternyata telah sampai sedari lama, jauh sebelum Pak Azis berkecimpung dalam berbagai dinamika kegiatan Islam. Hidayah itu bermula dari peristiwa angin puting-beliung, yang tiba-tiba menyapu seluruh atap bengkel workshop-nya, pada suatu malam kira-kira lima tahun silam. “Atap rumah saya sampai tak tersisa satupun. Terbuka semua.“ cerita Pak Azis.“Padahal nggak ada hujan, nggak ada tanda-tanda bakal ada angin besar. Angin berpusar itupun cuma sebentar saja.”

Batin Pak Azis bergolak setelah peristiwa itu. Walau uang dan pekerjaan masih terus mengalir kepadanya, Pak Azis tetap merasa gundah, gelisah, selalu tidak tenang. “Seperti orang patah hati, Ndra. Makan tidak enak, tidur juga susah, pokoknya persis seperti putus cinta.”cerita Pak Azis lagi

Lama-kelamaan Pak Azis menjadi tidak betah tinggal di rumah, merasa stres atas segala rutinitas pekerjaan, yang menurutnya seperti buang-buang waktu saja. Rutinitas kerja membuatnya selalu gugup, sehingga waktu terasa pendek, jadi sulit menikmati detik demi detiknya. Padahal, sebelum kejadian angin puting-beliung yang anehnya hanya mengenai bengkel workshop merangkap rumahnya saja, Pak Azis merasa hidupnya sudah sempurna. Dari desainer grafis dia bisa menjadi desainer interior, dari desainer interior dia bisa menjadi arsitek, dan dengan keserbabisaannya itu, berarti semua cita-citanya sudah berhasil dicapai. Pak Azis merasa puas dan bangga, karena menguasai banyak keahlian dan mempunyai penghasilan tinggi. Tapi setelah peristiwa angin puting-beliung itu, ketika kegelisahan kembali menghinggapi dirinya, Pak Azis kembali bertanya : apa sih yang kurang ?

“Seperti musafir atau walisongo, saya kemudian mendatangi masjid-masjid di malam hari. Semua masjid besar dan beberapa masjid di pelosok Bandung ini, sudah pernah saya inapi.” Setahun lebih cara tersebut ia jalani, sampai kemudian akhirnya Pak Azis bisa tidur normal, bisa menikmati pekerjaan dan keseharian seperti sediakala.

“Bahkan lebih tenang dan santai daripada sebelumnya.”

“Lebih tenang ? Memang Pak Azis dapet hikmah apa dari tidur di masjid itu ?“

“Di masjid itu ’kan tidak sekedar tidur, Ndra. Kalau ada shalat malam, kita dibangunkan, lalu pergi wudhu dan tahajjud. Sebab terbiasa, tahajjud juga jadi terasa enak. Malah nggak enak kalau tidak shalat malam, dan shalat-shalat wajib yang lima itu jadi kurang enaknya, kalau saya lalaikan. Begitu, Ndra.“

“Sekarang tidak pernah terlambat atau bolong shalat-nya, Pak Azis ?“

“Alhamdulillah. Sekarang ini yang saya anggap utama itu adalah shalat. Jadi, saya dan temen-temen kerja itu cuma sekedar selingan saja.“

“Selingan ?“

“Ya, selingan yang berguna. Untuk menunggu kewajiban shalat, Ndra.“

Untuk beberapa lama saya terdiam, sampai kemudian adzan ashar mengalun jelas dari masjid samping rumah Pak Azis. Pak Azis mengajak saya untuk segera pergi mengambil air wudhu, dan saya lihat para pekerjanyapun sudah pada pergi ke samping rumah, menuju masjid. Bengkel workshop itu menjadi lengang seketika. Martil, pahat, diletakkan begitu saja disamping pekerjaan yang belum selesai atau rautan-rautan kayu. Sambil memandang seluruh ruangan bengkel, sambil berjalan menuju masjid di samping workshop, terus terngiang-ngiang di benak saya : “Kerja itu cuma selingan, Ndra. Untuk menunggu waktu shalat…“

Sepulangnya dari tempat workshop, sambil memandang sibuknya lalu lintas di jalan raya, saya merenungi apa yang tadi dikatakan oleh Pak Azis. Sungguh trenyuh saya, bahwa setelah perenungan itu, saya merasa sebagai orang yang kerap berlaku sebaliknya. Ya, saya lebih sering menganggap shalat sebagai waktu rehat, cuma selingan, dan ada kecenderungan saya lebih mementingkan pekerjaan. Kadang-kadang waktu shalat dilalaikan sebab pekerjaan belum terselesaikan, atau rapat dengan klien dirasakan tanggung untuk diakhiri. Itulah penyebab dari kegersangan hidup saya selama ini. Saya lebih semangat dan habis-habisan berjuang meraih dunia, daripada mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan kekal di akhirat nanti. Saya lupa, bahwa shalat adalah yang utama. Yang pertama diperiksa dalam pengadilan mahsyar, dimana nasib setiap anak manusia ditentukan pahit dan manisnya.

Subhanallah, Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah memberikan dan menunjukan kepada kami hingga kisah ini sampai kepada kami.

Satu hal sebagai bahan renungan Kita…
Tuk merenungkan indahnya malam pertama
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata
Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam Dan Hawa

Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang Mauuut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu…mempelai sangat dimanjakan
Mandipun…harus dimandikan
Seluruh badan Kita terbuka….
Tak Ada sehelai benangpun menutupinya..
Tak Ada sedikitpun rasa malu…
Seluruh badan digosok Dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan
Bahkan lubang – lubang itupun ditutupi kapas putih…
Itulah sosok Kita….
Itulah jasad Kita waktu itu

Setelah dimandikan…, Kitapun kan dipakaikan gaun cantik berwarna putih
Kain itu …jarang orang memakainya..
Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan
Wewangian ditaburkan ke baju Kita…
Bagian kepala..,badan…, Dan kaki diikatkan
Tataplah….tataplah…itulah wajah Kita
Keranda pelaminan…langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian…

Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol
asal usul
Kita diiringi langkah gontai seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah Dzikir
Akad nikahnya bacaan talkin…
Berwalikan liang lahat..
Saksi – saksinya nisan-nisan..yang tlah tiba duluan
Siraman air mawar..pengantar akhir kerinduan

Dan akhirnya….. Tiba masa pengantin..
Menunggu Dan ditinggal sendirian…
Tuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama KEKASIH..
Ditemani rayap – rayap Dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah tlah pergi….
Kitapun kan ditanyai oleh sang Malaikat…
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur…
Ataukah Kita kan memperoleh Siksa Kubur…..
Kita tak tahu…Dan tak seorangpun yang tahu….
Tapi anehnya Kita tak pernah galau ketakutan….
Padahal nikmat atau siksa yang kan kita terima
Kita sungkan sekali meneteskan air mata…
Seolah barang berharga yang sangat mahal…

Dan Dia Kekasih itu.. Menetapkanmu ke syurga..
Atau melemparkan dirimu ke neraka..
Tentunya Kita berharap menjadi ahli syurga…
Tapi….tapi ….sudah pantaskah sikap kita selama ini…
Untuk disebut sebagai ahli syurga
HuhHuhHuh

Sahabat…mohon maaf…jika malam itu aku tak menemanimu
Bukan aku tak setia… Bukan aku berkhianat….
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Tapi percayalah…aku pasti kan mendo’akanmu…
Karena …aku sungguh menyayangimu…
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga
Aku berdo’a…semoga kau jadi ahli syurga. Amien

Sahabat….., jika ini adalah bacaan terakhirmu
Jika ini adalah renungan peringatan
dari Kekasihmu
Ambillah hikmahnya…..
Tapi jika ini adalah salahku…maafkan aku….
Terlebih jika aku harus mendahuluimu….
Ikhlaskan Dan maafkan seluruh khilafku
Yang pasti pernah menyakiti atau mengecewakanmu…..
Kalau tulisan ini Ada manfaatnya….
Silakan di print out Dan kau simpan sebagai renungan…
Siapa tahu …suatu saat kau ingat padaku
Dan…aku tlah di alam lain….
Satu pintaku padamu…
Tolong do’akan aku….

====My Quran======

Pertama kali baca judulnya, sungguh menggelitik tapi dalem banget isinya. Thx buat Puspa yg ngasih bulletin board lewat FS. thx banget….

^_^

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS 103:1-3)

lama ku tak membaca surat itu
surat dari kekasihku

baris per baris ku baca
lembar demi lembar ku habiskan
betapa rindu hati ini membaca surat itu
serasa penawar rindu pada kekasihku

from book of “zero to Hero”

Tuhanku, ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku, maafkanlah kejahilan hamba-Mu
Ku sering melanggar larangan-Mu
Dalam sadar atupun tidak
Ku sering meninggalkan suruhan-Mu
Walau sadar aku milik-Mu

Tuhanku, ampunkanlah segala dosaku
Tuhanku, maafkanlah kejahilan hamba-Mu
Bilakah diri ini kan kembali
kepada fitrah sebenar
Pagi kuingat petang kulupa
Begitulah silih berganti

Oh Tuhanku Kau pimpinlah diri ini
Yang mendamba cinta-Mu
Aku lemah aku jahil tanpa pimpinan dari-Mu
Kau pengasih Kau penyayang Kau pengampun
Kepada hamba-hamba-Mu
Selangkah kepada-Mu seribu langkah Kau padaku

Ku sering berjanji di hadapan-Mu
Ku sering jua memungkiri-Mu
Ku pernah menangis kerana-Mu
Kemudian ketawa semula
Ku takut kepada-Mu
Ku mengharap jua pada-Mu

Moga ku kan selamat dunia dan akhirat
Seperti Rasul dan sahabat
Tuhan diri ini tidak layak ke surga-Mu
Tapi tidak pula aku sanggup ke neraka-Mu

*remainder for me 🙂

ketika ia tersenyum
pahamilah arti dari senyumannya
ketika ia menatapmu
pamilah bahasa tatapannya

ia memang bukan yang kau mau
ia memang tak sempurna
ia memang wanita biasa

dengan biasa ia bisa mencintaimu
dengan tak sempurna ia bisa memahamimu
dengan bukan kemauanmu, ia bisa menyayangimu

sesungguhnya setiap makhluk tak ada yang sempurna
sesungguhnya kita bisa menyempurnakan satu dengan yang lainnya
sesungguhnya kita ini hanya makhluk yang lemah
Hanya pada-Nya kita memohon dan berserah diri

for my friend in digital world 🙂

Berbagi Cinta

oleh; Jamil Azzaini

Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya.  Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal.  Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata.  Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.

Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim.  Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan.  Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim.  Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.  “Nina, apa yang anakku mau sayang” begitu ayah saya membuka percakapan.  “Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak? tambah ayah saya.  “Nggak ah… ntar om marah”  jawab Nina.  “nggak sayang, om tidak akan marah” ayah saya menimpali. ”Nggak ah… ntar om marah” Nina mengulang jawabannya.

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal.  Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi. Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, ”ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang”  ”Tapi janji ya om tidak marah” jawab Nina manja. ”Om janji tidak akan marah sayang” tegas ayah saya.   ”Bener om tidak akan marah” sahut Nina agak ragu.  Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah

Nina menatap tajam wajah ayah saya.  Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. “Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’ pikir ayah saya. Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan “ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak.”

Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; ”bener ya om tidak marah.”  Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala.  Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya ”om, boleh nggak saya memanggil ayah”  Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya.  Segera dia peluk Nina dan mengatakan ” tentu anakku.. tentu anakku…mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om”  Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata ”terima kasih ayah… terima kasih ayah…

Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina.  Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina ”anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?”  ”Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah” sergah Nina.

”Nina masih boleh minta lagi sama ayah.  Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih.”  Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon ”nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?”

Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina.  Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; ”buat apa foto itu nak?”  Tanpa ragu Nina menjawab “Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.”  Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu.

Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta.  Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata.  Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna.  Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.

Jamil Azzaini adalah Inspirator Sukses-Mulia dan penulis buku Best Seller Kubik Leadership; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup


tHe NarsiS of mE

Still in my table n write about all my life, share information n kadang nulis ga jelas gitu deh...

WordCampId is almost Close

WordCampID – January 30, 2010

WordCampID – January 30, 2010

whEN in AcTiVe

September 2017
S S R K J S M
« Des    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

CaTeGoRiEs Of phie2t cute :p